Penasultan.co.id – Kesadaran akan autisme pada wanita dewasa masih sangat rendah di masyarakat. Berbeda dengan laki-laki yang biasanya menunjukkan tanda-tanda autisme secara lebih nyata sejak kecil, banyak wanita dengan autisme justru tidak terdeteksi hingga usia dewasa. Hal ini membuat mereka sering disalahpahami, baik oleh lingkungan sosial maupun oleh dirinya sendiri.
Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah kondisi perkembangan neurologis yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan merespons lingkungan sekitar. Pada wanita, gejala autisme seringkali lebih halus dan tersembunyi, sehingga disebut sebagai “autisme tersembunyi” (camouflaged autism).
Ciri-Ciri Wanita Autis yang Perlu Diketahui
Berikut adalah beberapa tanda umum yang bisa menjadi indikasi seorang wanita berada dalam spektrum autisme:
- Kesulitan dalam Interaksi Sosial: Wanita autis mungkin merasa canggung atau kelelahan saat harus bersosialisasi dalam waktu lama. Mereka bisa saja mahir berbasa-basi, tetapi merasa tertekan dan tidak nyaman secara internal.
- Perfeksionis dan Sering Merasa Harus “Berpura-pura”: Banyak wanita autis berusaha menyesuaikan diri agar terlihat “normal” di mata orang lain. Mereka bisa menjadi sangat perfeksionis dan cemas untuk tidak melakukan kesalahan sosial sekecil apa pun.
- Minat yang Mendalam dan Terfokus: Mereka cenderung memiliki ketertarikan yang sangat dalam terhadap topik tertentu. Misalnya, mendalami seni, bahasa, psikologi, atau bahkan hal-hal unik seperti pola angka atau mitologi.
- Sensitivitas Sensorik: Gangguan pada penciuman, suara keras, cahaya terang, atau sentuhan tertentu juga bisa menjadi tanda. Wanita autis mungkin lebih sensitif terhadap rangsangan sensorik.
- Mengalami Kecemasan atau Depresi: Karena terus berusaha menyembunyikan “perbedaan” mereka dari masyarakat, wanita autis lebih rentan mengalami gangguan kecemasan, stres kronis, hingga depresi.
Mengapa Banyak Wanita Autis Tidak Terdiagnosis?
Menurut beberapa studi, wanita lebih pandai meniru perilaku sosial, sehingga gejalanya sering tidak dikenali. Selain itu, sebagian besar alat diagnostik autisme masih didasarkan pada studi kasus pria, sehingga bias gender masih terjadi dalam proses diagnosis.
Dukungan dan Pendampingan yang Dibutuhkan
Mengetahui seseorang adalah autis, khususnya wanita, bukanlah bentuk pelabelan negatif, tetapi langkah awal untuk memberikan dukungan yang tepat dan empatik. Diagnosa yang akurat bisa membantu wanita mengenal dirinya sendiri dengan lebih baik dan mendapatkan bantuan profesional jika diperlukan, seperti terapi okupasi, konseling psikologis, atau komunitas pendukung autisme.
Kesimpulan
Autisme bukanlah penyakit, melainkan cara berpikir dan merasakan dunia yang berbeda. Mengenali tanda-tanda autisme pada wanita bukan hanya tentang memahami perbedaan, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih inklusif dan penuh empati.
Untuk keluarga, guru, teman, hingga pasangan – memahami dan mendukung wanita dengan spektrum autisme bisa membuka ruang tumbuh yang lebih sehat dan bermakna.