KOTA SERANG – Genap satu tahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Serang, duet Budi-Agis menuai apresiasi dari kalangan legislatif. Ketua DPRD Kota Serang, Muji Rohman, memberikan nilai 7 dari skala 10 atas kinerja pasangan kepala daerah tersebut.
Penilaian itu, menurut Muji, didasarkan pada capaian riil di lapangan serta berbagai terobosan kebijakan yang mulai dirasakan masyarakat.
“Kami realistis, kami berikan angka tujuh. Ini sudah sangat luar biasa karena sudah banyak terobosan yang dilakukan. Kalau sampai empat tahun, angka 10 itu bisa terlampaui,” ujar Muji Rohman kepada wartawan di Kota Serang, Sabtu (14/02/2026).
Transformasi Wajah Kota dan Reformasi Birokrasi
Salah satu capaian yang mendapat sorotan adalah keberanian pemerintah dalam melakukan penataan infrastruktur melalui proyek Royal Baroe. Meski sempat menuai kritik, terutama terkait sistem drainase, DPRD menilai respons evaluatif yang dilakukan Pemkot menunjukkan komitmen terhadap perbaikan berkelanjutan.
Tak hanya infrastruktur, pembenahan birokrasi juga menjadi catatan positif. Kota Serang disebut sebagai pionir di Provinsi Banten dalam penerapan manajemen talenta. Sistem ini menempatkan pejabat berdasarkan kompetensi dan kinerja, bukan sekadar faktor kedekatan politik.
Langkah tersebut dinilai sebagai fondasi penting dalam membangun tata kelola pemerintahan yang profesional dan akuntabel.
Kebijakan Pro-Rakyat Jadi Sorotan
Di sektor kebijakan publik, Muji menyoroti keputusan penghapusan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) bagi wajib pajak dengan nominal di bawah Rp50.000. Menurutnya, kebijakan tersebut memiliki dampak signifikan bagi masyarakat kecil.
“Jangan lihat Rp50.000-nya, tapi kalau dikalkulasikan dengan ratusan ribu wajib pajak, itu uang yang besar. Ini sangat membantu warga,” katanya.
Selain itu, DPRD juga mengapresiasi langkah Pemkot yang tetap mempertahankan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi ASN di tengah tekanan fiskal. Upaya mencari solusi bagi tenaga honorer agar tidak dirumahkan juga dinilai sebagai bentuk keberpihakan terhadap stabilitas sosial dan ekonomi keluarga pegawai.
Adaptif dan Terbuka terhadap Kritik
Muji menilai gaya kepemimpinan Budi-Agis cenderung adaptif dan terbuka terhadap kritik. Respons terhadap aspirasi masyarakat, baik melalui media sosial maupun rekomendasi resmi DPRD, disebut berjalan cukup baik.
“Kritik itu bentuk rasa memiliki. Dan saya lihat beliau berdua ini tidak anti-kritik. Banyak komentar di medsos yang direspons dengan baik. Kami di DPRD terus berkomitmen mengawal anggaran agar masalah klasik seperti jalan rusak dan pengangguran bisa dituntaskan secara bertahap,” pungkasnya.
Dengan sejumlah capaian tersebut, DPRD menilai satu tahun pertama kepemimpinan Budi-Agis menjadi fondasi awal yang cukup kuat. Namun, pengawasan dan evaluasi tetap diperlukan agar target pembangunan hingga akhir masa jabatan dapat terealisasi secara optimal.
