23 C
Indonesia
Kamis, Oktober 22, 2026

Buy now

Diduga Rugikan Warga, Normalisasi Kali Kubang Puji Lor Disorot: Ratusan Pohon Ditebang, Kades Juju Marah Saat Dikonfirmasi

PENASULTAN.CO.ID, SERANG – Kegiatan normalisasi Kali Kubang Puji Lor menuai keluhan dari sejumlah warga yang mengaku mengalami kerugian akibat rusaknya tanaman produktif dan fasilitas penyaluran air menuju empang. Salah seorang warga bernama Rijal mengaku tanaman miliknya, mulai dari pohon pisang, pohon ambon, kelapa, singkong hingga sebuah gubuk, diduga telah rusak atau ditebang dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Rijal mengatakan, kerusakan itu baru diketahuinya setelah kembali dari ibadah umrah. Menurut pengakuannya, saat dirinya berada di Tanah Suci, sejumlah tanaman yang berada di lahannya diduga telah ditebang tanpa adanya koordinasi terlebih dahulu dengannya.

“Iya, Kang. Setelah saya pulang umrah, pepohonan itu sudah tidak ada. Saya sempat bertanya dan meminta ganti rugi karena tidak menerima tanaman tersebut ditebang tanpa koordinasi dengan saya,” ujar Rijal saat ditemui pada Kamis (22/10/2026).

Ia mengungkapkan, kerugian yang dialaminya tidak hanya berkaitan dengan tanaman, tetapi juga saluran air berupa pipa yang selama ini digunakan untuk mengalirkan air ke empang miliknya. Kerusakan fasilitas tersebut, menurutnya, mengganggu kebutuhan pengairan empang.

Rijal menyebutkan, sejumlah tanaman yang diduga terdampak di antaranya pohon pisang, pohon ambon, pohon kelapa, dan singkong. Ia memperkirakan terdapat sekitar 400 batang pohon pisang yang ditebang.

Menurut Rijal, tanaman pisang tersebut memiliki nilai ekonomi karena dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp500.000 per bulan. Sementara itu, tanaman singkong dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“Saya setuju kalau memang mau dilakukan normalisasi, tetapi caranya harus benar. Setidaknya ada sosialisasi kepada warga terlebih dahulu sebelum pekerjaan dilaksanakan. Kalau sudah disosialisasikan, baru dikerjakan,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa sejumlah warga lain diduga mengalami kerugian serupa, di antaranya Odi, Kasiman, Sapari, Iksan dan Jakar. Namun, besaran kerugian masing-masing warga tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

Pertanyakan Panjang Normalisasi dan Kerusakan Saluran Air

Selain persoalan tanaman dan fasilitas pengairan, Rijal turut mempertanyakan informasi mengenai panjang pekerjaan normalisasi Kali Kubang Puji Lor yang disebut-sebut mencapai 2.000 meter atau sekitar dua kilometer.

Menurutnya, berdasarkan pengamatannya, panjang pekerjaan yang dilaksanakan diduga tidak mencapai angka tersebut. Ia juga menyampaikan dugaan bahwa sebagian area yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut digunakan untuk kepentingan empang kepala desa.

Dugaan tersebut masih memerlukan penelusuran dan verifikasi lebih lanjut, termasuk melalui pemeriksaan lokasi, dokumen perencanaan, serta keterangan pihak-pihak terkait.

Rijal berharap pemerintah desa dan pihak pelaksana dapat membuka ruang komunikasi dengan warga yang merasa dirugikan agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut.

“Harapan saya, coba diperbaiki lagi dan disosialisasikan kepada warga yang dirugikan. Mari dibicarakan secara persuasif, terutama soal saluran pipa saya. Kalau kondisinya seperti ini, saya tidak bisa mengalirkan air karena pipanya rusak,” ungkapnya.

Ia meminta agar fasilitas penyaluran air yang rusak dapat diperbaiki dan persoalan tanaman dibahas bersama untuk mencari jalan keluar yang adil bagi semua pihak.

“Kalau soal pepohonan, mari kita rembukkan bersama dan cari jalan keluar yang terbaik,” tutup Rijal.

Kepala Desa Juju Bantah Tidak Ada Sosialisasi dan Kompensasi

Sementara itu, Kepala Desa Juju memberikan keterangan berbeda ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon WhatsApp. Ia meminta agar persoalan tersebut terlebih dahulu dikonfirmasi kepada warga lainnya, termasuk ketua RT, ketua RW, dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

“Tanyakan saja sama warga sebelum konfirmasi kepada saya. Coba tanya RT, RW, dan BPD,” ujar Juju Denga nada tinggi.

Dalam keterangannya, Juju juga menyebut Rijal sebagai lawan politiknya. Ia membantah anggapan bahwa tidak ada sosialisasi maupun kompensasi terkait kegiatan normalisasi tersebut.

Menurut Juju, Rijal telah menerima kompensasi sebesar Rp3.000.000. Ia mempertanyakan kembali tuntutan kompensasi yang disampaikan Rijal.

“Warga mana selain Rijal? Coba tanya, yang lain juga tidak ada masalah, cuma Rijal doang. Rijal itu sudah saya kasih kompensasi sebesar Rp3.000.000, terus dia mau minta berapa lagi?” kata Juju dengan nada tinggi saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.

Meski demikian, rincian mengenai pemberian kompensasi tersebut, termasuk dasar perhitungan, objek yang diganti rugi, serta bukti penyerahannya, masih perlu diklarifikasi lebih lanjut. Demikian pula dengan keterangan mengenai sosialisasi kepada warga dan pelaksanaan pekerjaan normalisasi di lokasi tersebut.

Perlu Klarifikasi dan Penyelesaian Secara Terbuka

Perbedaan keterangan antara Rijal dan Kepala Desa Juju menunjukkan perlunya klarifikasi lebih lanjut agar persoalan normalisasi Kali Kubang Puji Lor dapat diketahui secara utuh.

Pemeriksaan terhadap kondisi saluran air, pendataan tanaman yang terdampak, dokumen kegiatan normalisasi, serta bukti sosialisasi dan kompensasi dinilai penting untuk memperjelas duduk perkara.

Pihak-pihak terkait diharapkan dapat mengedepankan musyawarah dan penyelesaian secara persuasif dengan memperhatikan hak warga maupun kepentingan umum dalam pelaksanaan normalisasi sungai.

Penasultan.co.id akan terus berupaya menelusuri informasi ini dan membuka ruang bagi pihak terkait untuk memberikan keterangan tambahan demi menjaga keberimbangan pemberitaan.

(Red/***)

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Tetap Terhubung

1,250FansSuka
1,506PengikutMengikuti
550PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Artikel Terbaru