Serang, penasultan.co.id – Polemik dugaan lambannya penanganan pasien persalinan di Puskesmas Gunungsari terus menjadi sorotan publik. Kali ini, awak media penasultan.co.id mengalami kesulitan menemui Kepala Puskesmas Gunungsari, Tomrik A, saat hendak melakukan konfirmasi langsung terkait kasus meninggalnya almarhumah Muhayaroh.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (25/05/2026). Menurut keterangan awak media, saat tiba di lingkungan puskesmas, Kepala Puskesmas Tomrik A disebut sempat berpapasan langsung dengan awak media ketika datang menggunakan sepeda motor berboncengan.
Namun setelah itu, yang bersangkutan tidak dapat ditemui hingga proses konfirmasi berlangsung cukup lama.
Awak media kemudian diterima dengan baik oleh Andri dan Fahmi selaku humas Puskesmas Gunungsari. Pihak humas langsung menyampaikan maksud kedatangan wartawan kepada bagian Tata Usaha UPT Puskesmas Gunungsari, Utami Prananda.
Akan tetapi, Utami Prananda disebut tidak dapat menemui awak media dengan alasan sedang mengikuti zoom meeting dan tidak memberikan kepastian waktu selesai kegiatan tersebut.
Setelah meminta izin kepada humas untuk melakukan konfirmasi langsung ke ruang manajemen, awak media melihat sejumlah tenaga medis berada di dalam ruangan kantor puskesmas.
Saat awak media meminta bantuan agar dapat bertemu dengan Kepala Puskesmas, salah satu pegawai disebut mencoba menghubungi Tomrik A melalui sambungan telepon. Namun menurut pegawai tersebut, nomor telepon Kepala Puskesmas dalam keadaan tidak aktif.
Pegawai puskesmas juga sempat mencari keberadaan Tomrik A di area kantor, namun tidak berhasil ditemukan, padahal sebelumnya awak media mengaku sempat berpapasan langsung saat yang bersangkutan baru tiba di lokasi.
Sementara itu, Sri Rahayu Basukiwati kembali memberikan keterangan terkait dugaan pelayanan pada hari kejadian.
Menurut Camat Gunungsari, saat peristiwa terjadi terdapat dua bidan yang sedang bertugas. Namun keduanya disebut sedang keluar secara bersamaan untuk makan siang.
“Memang saat itu ada dua bidan yang bertugas dan keduanya sedang keluar untuk makan,” ujar Sri Rahayu Basukiwati kepada awak media.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi kesalahan dalam pengaturan pelayanan karena petugas tidak berjaga secara bergantian.
“Mereka memang salah. Kenapa harus dua-duanya keluar? Kalau bergantian mungkin tidak akan terjadi seperti ini,” tegasnya.
Kritik keras juga datang dari tokoh masyarakat Gunungsari, Apang. Ia mengaku lebih percaya kepada kesaksian masyarakat karena menurutnya keluhan terkait pelayanan kesehatan di wilayah tersebut sudah sering terjadi.
“Saya lebih percaya ke masyarakat karena sudah sering terjadi seperti ini. Keluhan bukan hanya tahun ini, tahun sebelumnya juga banyak,” ujarnya.
Apang mengaku sebelumnya telah beberapa kali memperingatkan dan melakukan audiensi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Serang terkait pelayanan kesehatan di Kecamatan Gunungsari.
“Saya sudah beberapa kali memperingatkan bahkan audiensi ke Dinas Kesehatan dan diterima dengan baik. Waktu itu sempat ada rencana pembenahan, tapi sampai sekarang belum terlihat perubahan,” katanya.
Ia juga menyoroti pelayanan posyandu di sejumlah wilayah pelosok Gunungsari yang dinilai belum maksimal. Menurutnya, ada warga di daerah pegunungan yang kesulitan mengakses layanan kesehatan karena tenaga kesehatan jarang hadir langsung ke lokasi.
“Kalau warga yang hamil atau membawa balita harus turun gunung untuk posyandu, itu berat. Harusnya bidan yang mendatangi masyarakat karena mereka digaji untuk melayani rakyat,” ujarnya.
Selain persoalan pelayanan teknis, Apang juga menyoroti sikap sebagian tenaga kesehatan dalam melayani pasien.
“Pasien itu kalau disambut baik, walaupun belum diobati biasanya sudah merasa tenang. Tapi kalau disambut dengan wajah tidak ramah, bagaimana masyarakat mau nyaman berobat,” tambahnya.
Sementara itu, dr. H. Efrizal hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait polemik tersebut. Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp oleh redaksi penasultan.co.id, yang bersangkutan belum memberikan respons.
Redaksi penasultan.co.id juga telah melayangkan surat resmi permohonan konfirmasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Serang pada Senin (25/05/2026) guna memperoleh penjelasan dan klarifikasi resmi terkait kasus yang menjadi perhatian masyarakat tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih terus berupaya melakukan konfirmasi kepada seluruh pihak terkait demi menjaga keberimbangan informasi sesuai kode etik jurnalistik.
(Tim Redaksi)
